Wednesday, September 5, 2012

PENGANTAR FILSAFAT UMUM


Apakah Filsafat Itu?

Beberapa Kesalah-pahaman

Apakah sesungguhnya filsafat itu? Pertanyaan demikian itu telah diajukan sejak lebih dari dua puluh abad yang silam dan hingga kini tetap dipertanyakan banyak orang. Berbagai jawaban telah diberikan sebagai upaya untuk menjelaskan apakah sesungguhnya filsafat itu, namun tidak pernah ada jawaban yang dapat memuaskan semua orang. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa banyaknya jawaban yang diberikan justru semakin mengaburkan masalah yang hendak dijelaskan. Dengan demikian, persoalannya menjadi semakin rumit. Apakah benar demikian?
Kenyataannya sampai sekarang ini, masih banyak orang yang mengira bahwa filsafat adalah sesuatu yang serba rahasia, mistis, dan aneh. Ada pula yang menyangka bahwa filsafat adalah suatu kombinasi antara astrologi, psikologi, dan teologi. Tak mengherankan apabila di toko toko buku terkemuka sekalipun sering terlihat penempatan buku buku filsafat dicampur baurkan begitu saja dengan buku buku astrologi, psikologi, dan teologi.
Selain itu, karena filsafat juga disebut sebagai mater scientiarum atau induk segala ilmu pengetahuan, maka cukup banyak pula orang yang menganggap filsafat sebagai  ilmu yang paling istimewa, ilmu yang menduduki tempat paling tinggi dari antara seluruh ilmu pengetabuan yang ada. Karena itu, filsafat hanya dapat dipaharni oleh orang orang jenius. Filsafat hanya dapat dipelajari oleh orang orang yang memiliki kernampuan intelektual luar biasa. Sehubungan dengan anggapan itu, ada. banyak mahasiswa yang sengaja menghindari mata pelajaran filsafat karena dianggap terlampau sukar dan pelik.
Sebaliknya, ada pula yang berpendapat bahwa filsafat itu tidak berharga untuk dipelajari. Filsafat tidak lebih dari sekedar lelucon yang tak bermakna alias "omongkosong". Apa gunanya mernpelajari filsafat yang tidak sanggup memberi petunjuk tentang bagaimana seseorang dapat meningkatkan keuntungan bagi perusahaannya? Apa gunanya mempelajari filsafat yang tak mampu memberi petunjuk tentang bagaimana merancang sebuah bangunan yang bisa memikat banyak orang sehingga laku dipasarkan? Apa gunanya mempelajari filsafat yang tidak dapat memberi petunjuk tentang bagaimana berternak ayarn yang paling berhasil? Singkatnya, mereka hendak mengatakan bahwa filsafat tidak memiliki kegunaan praktis.
Ada pula yang berpendapat bahwa filsafat hanyalah sejenis "ilmu" yang mengawang tanpa merniliki dasar pijakan konkret yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Karena filsafat berbicara tentang apa saja, padahal suatu disiplin ilmu hanya mengacu pada satu objek tertentu, maka filsafat tidak dapat dikatakan sebagai suatu disiplin ilmu.
Di kalangan para rohaniwan dan teolog, ada pula yang memperlakukan filsafat hanya sebagai ancilla theologiae, yakni sebagai budak atau pelayan teologi. Sebagai pelayan teologi, filsafat bertugas menformulasikan argumentasi argurnentasi yang kuat untuk membela keyakinan dan ajaran agarna, tanpa memperdulikan apakah cara yang ditempuh itu benar dan sahih. Bahkan, ada juga rohaniwan dan teolog yang menuding filsafat sebagai alat iblis yang terkutuk. Karena itu, harus ditolak oleh semua orang beriman.
Dalam percakapan, sehari hari, acap kali kita dengar ada orang yang mengatakan, "Falsafah saya adalah..." atau "Filsafat pengusaha yang berhasil itu dan sebagainya. Apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan ungkapan ungkapan tersebut? Apakah arti istilah "falsafah" atau "filsafat" yang digunakan dalam ungkapan ungkapan tersebut di atas? Istilah "falsafah" atau "filsafaf 'yang digunakan dengan cara itu sesungguhnya mengacu kepada. sikap, pandangan, dan gagasan yang dipegang oleh seseorang untuk men hadapi segala persoalan dan tantangan yang harus diatasinya.
Ada lagi orang orang yang hendak menawarkan. "jasa baik” dengan berupaya membedakan pernakaian istilah "falsafah" dan. "filsafaf” dalam penggunaan praktis sehari hari, namun. malah berakibat semakin rancu.
Ada juga yang mengatakan bahwa karena semua orang berpikir, sesungguhnya semua orang adalah filsuf. Apakah benar setiap orang yang berpikir itu adalah filsuf   Jika benar demikian, berarti berpikir adalah berfilsafat, dan berfilsafat adalah berpikir. Jadi, pemikiran (sebagai hasil berpikir) adalah filsafat, dan filsafat adalah pemikiran. Memang benar orang yang berfilsafat itu berpikir, tetapi tidak semua yang berpikir berarti pula berfilsafat. Untuk berpikir secara filsafati, ada persyaratan persyaratan tertentu yang harus dipenuhi.
Kesimpangsiuran pendapat dan pandangan yang telah dikemukakan itu belum menyentuh keanekaragaman gagasan gagasan filsafati yang acap kali ”saling bertentangan" satu sama lain. Konsep konsep filsafati yang saling bertentangan sering pula menimbulkan pertikaian tak terdamaikan yang membuat filsafat semakin dianggap kacau balau. Tentu saja, hal itu menimbulkan kesan buruk terhadap filsafat. Oleh sebab itu, dapat dipahami apabila ada orang yang berpendapat bahwa filsafat merupakan sesuatu yang tidak jelas, kacau balau, tidak ilmiah, penuh dengan pertikaian dan perselisihan pendapat, tidak mengenal sistern dan metode, tidak tertib, dan juga tidak terarah. Tidak mengherankan pula jika ada yang menawarkan pemikiran untuk menertibkan filsafat karena menganggap filsafat tidak tertib. Akan tetapi, dapat dibayangkan bagaimanakah jadinya suatu filsafat bila ditertibkan. Tidakkah ia akan menjadi begitu "kurus" dan sangat "kerdil" karena kehilangan ruang gerak dan wawasan?
Pada masa kini ada sebagian orang yang mengatakan bahwa filsafat telah berada di penghujung jalan. Filsafat telah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan kini harus berhenti. Pengembaraannya telah berakhir, dan tidak ada lagi sesuatu pun yang dapat dilakukannya. Filsafat sebagai induk segala ilmu pengetahuan telah berhasil melahirkan berbagai ilmu pengetahuan yang kini telah mandiri. Ilmu ilmu pengetahuan alam (natural sciences), ilmu ihnu pengetahuan sosial (social sciences), dan seluruh disiplin ilmu lainnya satu per satu telah memisahkan diri dari filsafat dan telah tumbuh menjadi dewasa. Filsafat selaku induk segala ilmu pengetahuan kini telah renta dan mandul. la tak mampu dan memang tak mungkin lagi untuk mengandung dan rnelahirkan. Karena itu, benar benar tidak berguna lagi.
            Beberapa kesalah pahaman dan kekeliruan tersebut justru menunjukkan ketidaktahuan tentang apa sesungguhnya filsafat. Memang pengamatan sekilas terhadap keberadaan filsafat dapat menyesatkan. Akan tetapi, apabila benar benar disimak  secara lebih serius dan lebih mendalam, filsafat akan semakin diminati, semakin menarik, semakin mernikat, dan semakin memukau.

Pengertian dan Definisi Filsafat

Secara. etiniologis, istilah "filsafat", yang merupakan padanan kata falsafah (bahasa Arab) dan philosophy (bahasa Ingris), berasal dari bahasa Yunani (philosophia). Kata philosophia merupakan kata majeMuk yang terdiri dari kata. philos dan sophia. Kata sophia  berarti kekasih, bisa juga berarti sahabat. Adapun philos berarti kebijaksanaan atau kearifan, bisa juga berarti pengetahuan. Jadi, secara harfiah philosophia berarti yang mencintai kebijaksanaan atau sahabat pengetahuan. Oleh karena istilah philosophia telah di Indonesiakan menjadi "filsafat", seyogyanya ajektivanya ialah "filsafati" dan. bukan "filosofis". Apabila mengacu kepada orangnya, kata yang tepat digunakan ialah "filsuf ' dan bukan "filosof'. Kecuali bila digunakan kata "filosofi" dan bukan "filsafat", maka ajektivanya yang tepat ialah "filosofis", sedangkan yang mengacu kepada orangnya ialah kata "filosof'.
Menurut tradisi kuno, istilah philosophia digunakan pertama kali oleh Pythagoras (sekitar abad ke 6 SM). Ketika diajukan pertanyaan apakah ia seorang yang bijaksana, dengan rendah hati Pythagoras menjawab bahwa ia hanyalah philosophia, yakni orang yang mencintai pengetahuan. Akan tetapi, kebenaran kisah itu sangat diragukan karena pribadi dan kegiatan Pythagoras telah bercampur dengan berbagai legenda; bahkan, tahun kelahiran dan. kematiannya pun tak diketahui dengan pasti. Yang jelas, pada masa Sokrates dan Plato, istilah philosophia sudah cukup populer.
Untuk memahami apa sebenarnya filsafat itu, tentu saja tidak cukup hanya mengetahui asal usul dan arti istilah yang di gunakan, melainkan juga harus memperhatikan konsep dan definisi yang diberikan oleh para filsuf menurut pemahaman mereka masing masing. Akan tetapi, perlu pula dikatakan bahwa konsep dan definisi yang diberikan oleh para filsuf itu tidak sama. Bahkan, dapat dikatakan bahwa setiap filsuf memiliki konsep dan membuat definisi yang berbeda dengan filsuf lainnya. Karena itu, ada yang mengatakan bahwajumlah konsep dan definisi filsafat adalah sebanyakjumlah filsuf itu sendiri.
Berikut ini, akan diketengahkan beberapa konsep dan definisi yang kiranya memadai untuk memberi gambaran lebih jelas tentang apakah filsafat itu.
Para filsuf pra Sokratik mempertanyakan tentang  awal atau asal mula alam dan berusaha menjawabnya dengan menggunakan logos atau rasio tanpa meminta bantuan mythos atau mitos. Oleh sebab itu, bagi mereka, filsafat adalah ilmu. yang berupaya untuk memahami hakikat alarn dan realitas ada dengan mengandalkan akal budi.
Plato memiliki berbagai gagasan tentang filsafat. Antara lain, Plato pernah mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa filsafat adalah penyelidikan tentang sebab sebab dan asas asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada.
Aristoteles (murid Plato) juga memiliki beberapa gagasan mengenai filsafat. Antara lain, ia mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari prinsip prinsip dan penyebab penyebab dari realitas ada. la pun mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari "peri ada selaku peri ada" (being as being) atau peri ada sebagaimana adanya" (being as such).
Rene Descartes, filsuf Prancis yang termasyhur dengan argumen je pense, donc je suis, atau dalam bahasa Latin cogito ergo sum ("aku berpikir maka Aku ada"), mengatakan bahwa filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam, dan manusia.
Bagi William James, filsuf Amerika yang terkenal sebagai tokoh pragmatisme dan pluralisme, filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan terang. R.F. Beerling, yang pernah menjadi guru besar filsafat di Universitas Indonesia, dalam bukunya Filsafat Dewasa Ini mengatakan bahwa filsafat "memajukan pertanyaan tentang kenyataan seluruhnya atau tentang hakikat, asas, prinsip dari kenyataan" Beerling juga mengatakan bahwa filsafat adalah suatu usaha untuk mencapai radix, atau akar kenyataan dunia wujud uga akar pengetahuan tentang diri sendiri.
Konsep atau gagasan dan definisi filsafat yang begitu banyak tidak perlu membingungkan, bahkan sebaliknya justru menunjukkan betapa luasnya samudera filsafat itu sehingga tidak terbatasi oleh sejumlah batasan yang akan mempersempit ruang gerak filsafat. Perbedaan perbedaan itu sendiri merupakan suatu keharusan bagi filsafat sebab kesamaan dan kesatuan pemikiran serta pandangan justru akan mematikan dan menguburkan filsafat untuk selama lamanya.

FELSAFAT, ILMU FILSAFAT, DAN ILMU PENGETAHUAN

Untuk menghindarkan kerancuan dalam pemahaman kita tentang apa dan bagaimana filsafat itu, perlu terlebih dahulu dibedakan antara fidsafat dan i1mu filsafat.
Pengertian kita tentang filsafat yang kita pergunakan dalam percakapan sehari hari, cenderung untuk diberi arti sebagai asas atau suatu pendirian yang mengandung prinsip prinsip yang kebenarannya telah kita yakini dan kita terima, sedemikian rupa sehingga asas atau pendirian tadi kita pergunakan sebagai dasar dan arah kehidupan kita atau masyarakat, untuk menjawab masalah masalah fundamental yang tidak dapat begitu saja diselesaikan secara teknis. Dengan demikian filsafat mendapatkan konotasinya sebagai pandangan hidup, sehingga muncul apa yang sering kita dengar dengan kata kata filsafat seorang Ilmuwan, filsafat seorang pedagang, filsafat seorang pendidik, filsafat seorang seniman, dan lain sebagainya.
Dalam pada itu filsafat sebagai ilmu, atau i1mu filsafat tidaklah berbeda dengan (cabang cabang) ilmu pengetahuan yang lain. Seperti halnya dengan ilmu pengetahuan yang lain, ilmu filsafat memiliki unsur unsur:
1.                  Gegenstand, yaitu suatu objek sasaran untuk diteliti dan diketahui menuju suatu pengetahuan, kenyataan atau kebenaran.
2.                  Gegenstand, tadi terus menerus dipertanyakan tanpa mengenal titik henti.
3.                  Ada alasan atau motif tertentu, dan dengan cara tertentu, pula mengapa Gegenstand tadi terus menerus dipertanyakan.
4.                  Rangkaian jawaban yang diketemukan kemudian disusun kembali kedalam satu kesatuan sistem.
Di samping kesamaannya, ilmu filsafat sudah barang tentu mempunyai perbedaan atau ciri khasnya tersendiri, terutama terletak pada objek formalnya.
Ilmu filsafat mempertanyakan. hakikat (substansi) atau "apanya" objek sasaran yang dihadapinya dengan menempatkan. objek itu pada kedudukannya secara utuh atau totalitasnya; sedang ilmu ilmu cabang hanya melihat pada sesuatu sisi atau dimensi saja. Ilmu filsafat dalam menghadapi objek material manusia, maka yang ingin dicari yalah apa hakikat manusia itu, apa makna kehadirannya serta tujuan hidup baik dalam arti imanen maupun transenden. Dengan melihat objek material manusia hanya pada satu sisi atau dimensi saja, ilmu ilmu cabang tumbuh menjadi ilmu sosiologi, antropologi, hukum, ekonorni, politik, psikologi dan lain sebagainya.
Demikian pula dengan menempatkan objek material alam semesta, maka ilmu filsafat mempertanyakan. alam semesta dari sudut apanya (ontologik), dan bagi ilmu ilmu cabang melihatnya dari sudut dimensi tertentu dengan melahirkan klimatologi, geodesi, fisika, kimia, astronomi~ mekanika dan lain sebagainya.
Yang jelas, kenyataan telah menunjukkan bahwa setiap cabang ilmu, apabila dalam perkembangannya telah sampai pada spekulasi spekulasi ataupun teori teori yang paling dasar, mau tidak mau cabang ilmu tadi harus kembali memasuki kawasan ilmu filsafat, sebagaimana tejadi pada ilmu hukum dengan filsafat hukumnya, i1mu pendidikan, biologi, matematika, sejarah, da~n lain sebagainya.
Bahkan dalam perkembangan akhir akhir ini di kalangan berbagai perguruan tinggi atau program studi timbul kebutuhan untuk mengembangkan filsafat Ilmu (Philosophy of Science), yang oleh sementara pakar disebut ilmu tentang ilmu, sebagai akibat adanya implikasi implikasi baik positif maupun negatif perkembangan ilmu pengetahuan bagi kehidupan umat manusia itu sendiri.

MASALAH  MASALAH FUNDAMENTAL DALAM FILSAFAT

Tidak dapat diungkiri bahwa filsafat sebagai ilmu pengetahuan. telah dirintis oleh orang orang Yunani Kuno, semenjak abad VI SK dan sekaligus mereka pulalah yang telah meletakkan. dasar dasar bagi tradisi pemikiran intelektual. ala Barat.
Bahwa kelahiran filsafat Yunani kuno fidak dirintis oleh dunia Timur sudah ditegaskan oleh Diogenes Laertios pada tahun 200 yang kemudian penegasan. itu diperkuat oleh penelitian sebagaimana dilakukan. oleh Eduard Zeller dalam. karyanya Grundriss der Geschischte der Grieschischen Philosophie. Apa yang datang dari dunia Timur adalah pengetahuan pengetahuan. praksis seperti astronomi, matesis, pengobatan, dan lain sebagainya (Driyarkara & Busch, 1957).
Melalui mimbar akademis kelahiran dan perkembangan ilmu filsafat Barat diuraikan secara bertahap (Storig, 1970), yaitu Tahap Yunani Kuno (abad VI SM   VI M), Zaman pertengahan (abad VI_)CIV), melalui Renaissance (abad XV) dan Aufklaerung (abad XVIII), hingga zaman modem termasuk filsafat kontemporer (abad XIX XX).
Masing masing tahap memilild ciri dan. sifatnya sendiri, dan dalam perkembangan yang telah berlangsung selama 26 abad itu, Ilu filsafat dihadapkan pada masalah "abadi" yang tidak pemah terselesaikan dalam arti masing masing fihak akan memberikan jawabannya atas dasar pilihan keyakinannya sendiri sendiri, yang disana sini tidak sama, berbeda, bahkan saling bertentangan, yang muncul dalam setiap tahap atau pun kurun waktu. Masalah "abadi" yang dimaksud antara lain adalah:

1.                  Bidang ontologi yang mempermasalahkan:
1)                  Apakah hakikat (yang) "ada" (being, sein).
2)                  Apakah (yang) "ada" itu sesuatu yang tetap, abadi, atau terus menerus berubah.
3)                  Apakah (yang) "ada" itu sesuatu yang abstrak universal atau yang konkret  individual.
2.                  Bidang epistemologi yang mempermasalahkan:
1)   Apakah sarananya dan bagaimanakah caranya untuk mempergunakan sarana itu guna mencapai pengetahuan, kebenaran, atau kenyataan.
2)   Apakah tolok ukur bagi sesuatu yang dinyatakan sebagai yang benar dan yang nyata yang terus menerus dicari oleh ilmu pengetahuan.
3. Bidang antropologi yang mempermasalahkan:
1)         Apa dan siapa manusia itu.
2)         Bagaimana hubungan jiwa dan raga.
3)         Apa makna dan tujuan li~idup ini dan nilai nilai mana yang secara imperatif harus dipatuhi.

Dalam sejarah filsafat telah terbukti bahwa manusia sampai pada suatu batas di mana akal dan pengalman tidak lagi mampu menunjukkan jabawan mana yang paling benar dalam menghadapi masalah masalah fundamental tadi. Masing masing menjatuhkan suatu pilihan yang dirasakan paling sesuai dengan hati nuraninya, yang manifestasinya muncul sebagai aliran aliran dalam ilmu filsafat yang satu sama lain berbeda atau pun bertentangan.
Aliran aliran yang dimaksud , dapat disebut antara lain: idealisme/spiritualisme, materialisme, dualisme, pluralisme (dalam bidang ontologi); rasionalisme, empirisme, kritisisme agnostisisme, fenomenologi,. (dalam bidang epistemologi); monisme, dualisme, eksistensialisme, determinisme atau incleterminisme (dalam bidang antropologi).
Sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia dapat dipastikan bahwa lahirnya aliran aliran baru, cabang cabang baru dalam i1mu filsafat akan terus berlangsung. Sejarah memang telah membuktikan bahwa tiap zaman, tiap, kurun waktu memiliki pandangan filsafatnya sendiri sendiri.
Atas dasar itu pula dapat difahami mengapa ilmu filsafat diberi batasan atau definisi secara berbeda beda di mana tiap orang, tiap filsuf memberikan definisinya sendiri sendiri (Beekman 1973).
Dengan mengenyampingkan berbagai perbeclaan unsur dalain pemberian definisi, namun dapat disimpulkan bahwa ilmu filsafat adalah i1mu yang menunjukkan bagaimana upaya manusia yang tidak pernah menyerah untuk menentukan kebenaran atau kenyataan, secara kritis, mendasar dan integral. Karena itu dalam berfilsafat, proses yang dilalui adalah refleksi, kontemplasi, abstraksi, dialog, evaluasi, menuju suatu sintesis.
Ilmu filsafat tidak lagi hanya berada pada tataran abstrak universal dan tekstual , i1mu filsafat masa kini juga harus turun ke dataran kontekstual, partisipatif, dan emansipatolis. Filsafat disebut sebagai Ilmu K Titis (Magnis Suseno, 1992), dan didorong untuk  ikut berperan sebagai dasar dan arah dalam. penvelesaian masalah masalah fundamental di bidang sosial. ideologi, politik, ekonomi, serta pendidik an sebacrai humanisasi (Sonny Keraf Mikhael. Dua. 2001; Sastrapratedia, 2001a).
Kontekstuahsasi filsafat dengan kondisi aktual yang sedang kiata alami  dewasa ini menjadi semakin dirasakan urgensinya, seirin g dengan perkembangan masyarakat yang sedang mengalami dekadensi dalam berbagai bidang, kehidupan semacam apa vang pernah dilukiskan oleh Mohandas K. Gandhi vaitu "politics without principle, wealth without work, commerce without morality, pleasure without conscience, education without character, science without humanitv, and worship without sacrifice." (Sastrapratedja.. 2001b).


KESIMPULAN SEBAGAI WASANA KATA

Melalui pemaparan secara singkat ini kiranya beberapa kesimpulan yang dapat kata ambil adalah sebacai berikut.

  1. Filsafat adalah suatu upaya manusia, suatu "pengembaraan intelektual" yang tidak pemah mengenal titik akhir dalam mencari dan menemukan kebenaran atau kenvataan. Kebenaran atau kenyataan itu sendiii bukanlah barang jadi yang sudah selesai, "mandheg," dalam kebekuan dogmatis dan normatif, melainkan sesuatu. Yang terbuka.
  2. Kelahiran dan perkembangan filsafat yang telah berlangsung semenjak jaman Yunani Kuno, Abad Pertengahan melalui Renaisance dan Aufklaerung hinga. di jaman modemkon temporer sekarang ini dapat kita jadikan metode berfikir, atau "mitra dialog" yang selalu hadir di dalam kita menggali dan menerapkan ilmu.
Denggan memahami nilai nilai filsafati maka cakrawala. wawasan ilmiah kita akan diperluas dan diperdalam sedemikian rupa sehingga tanpa harus menjadi seorang, filsuf akan menjadikan diri kita sebagai ilmuwan    atau sajana yng arif, terhindar dari kecongkakan inteleltual tidak hanyut dalam biduk tradisi yang, memandang, ilmu hanva sebagai produk.



No comments:

Post a Comment